DIALOG SEBAGAI JALAN MASUK MEMPERKUAT MODERASI BERAGAMA DI GEREJA

Authors

  • Mesakh Beeh Dosen Author

Keywords:

DIALOG SEBAGAI JALAN MASUK MEMPERKUAT MODERASI BERAGAMA DI GEREJA

Abstract

Relasi dialogis manusia dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari relasi dialogis dengan sesama dan lingkungan alamiahnya. Oleh karenanya, aspek religius terkandung selalu dalam keseluruhan tampilan kehidupan manusia. Dengan demikian, dialog dalam kehidupan beragama merupakan keniscayaan eksistensial manusia. Keniscayaan dialogis itu, sejatinya, mengandung potensi moderasi beragama.

Secara relasional, Imago Dei mengandung arti keterikatan manusia dengan Tuhan, sesama dan alam semesta. Secara fungsional, Imago Dei mengandung arti kewenangan manusia mengelola alam ciptaan. Bahasan manusia sebagai makluk dialogis berkaitan dengan aspek relasional dari Imago Dei.

Memang agama tidak untuk didefinisikan apalagi diperdebatkan. Agama dihayati dan dihidupi. Agama bukanlah “sesuatu” di luar diri dan hidup manusia. Agama tidak untuk “dimiliki” seperti halnya seseorang “memiliki” mobil atau rumah. Agama bukan sebuah ”tambahan” kemudian kepada kemanusiaan, seolah-olah menjadi manusia lebih dahulu baru agama ditambahkan kemudian.

Kata dialog berasal dari bahasa Yunani: dia-logos artinya bicara antara dua pihak atau dwiwicara. Lawan katanya adalah monolog artinya bicara sendiri. Pengertian dialog adalah percakapan antara dua pihak (atau lebih), yang di dalamnya diadakan pertukaran nilai yang dimiliki oleh masing-masing pihak. Dalam dialog itu, masing-masing pihak saling memberi diri dan berusaha  mengenal pihak lain sebagaimana adanya.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-07-21